Pengaruh Suasana Kelas yang Monoton dan Membosankan terhadap Proses Pembelajaran

    Author: Purwoko Haryadi Santoso Genre: »
    Rating


    Pengaruh Suasana Kelas yang Monoton dan Membosankan
    terhadap Proses Pembelajaran

    Oleh

    Purwoko Haryadi Santoso
    11302241045
    Pendidikan Fisika Subsidi



    ABSTRAK

                Proses pendidikan memiliki dua komponen penting yaitu pendidik dan peserta didik. Pendidik dan peserta didik harus ada dalam proses pendidikan. Jika salah satu dari komponen ini tidak ada, maka proses pendidikan tidak akan berjalan. Proses pendidikan akan berjalan jika terjadi interaksi edukatif (kegiatan pembelajaran) antara pendidik dan para peserta didik. Dapat dikatakan suatu interaksi karena  interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Faktor ini diantaranya adalah ketenangan, kesabaran, kasih sayamg, dan kebetahan siswa dalam kelas. Namun, seringkali guru belum mampu dalam menciptakan suasana pembelajaran yang mendukung faktor-faktor dalam mencapai keberhasilan belajar-mengajar tersebut. Sering ditemukan sebagian para siswa mengalami titik kejenuhan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tentunya terdapat hal yang mendasar mengapa hal ini bisa terjadi dalam fenomena pendidikan kita selama ini. Oleh, karena itu diperlukan suatu solusi atau kiat-kiat agar seorang guru bisa menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam mendukung keberhasilan kegiatan belajar-mengajar tersebut.

    Kata kunci :
    Pendidik                                  Peserta Didik                          Interaksi Edukatif                                   Suasana Kelas
    Rasa Bosan                             Monoton                                 Kiat-kiat

    “ Horeeee …! “, begitulah suasana riuh gembira ketika bel berbunyi menandakan usainya les matematika yang diajarkan oleh pak Umar Bakri. Mereka merasa merdeka, lega, seperti orang yang baru keluar dari penjara. Begitulah realita kelas–kelas sekolah kita. Sebagian besar siswa kita merasa bahwa sekolah adalah penjara. Belajar adalah membosankan. Mengapa?  Tony Buzan, seorang pengamat pendidikan mengatakan : “ Setelah saya melakukan penelitian selama 30 tahun tentang asosiasi orang tentang terhadap kata “ belajar “, saya menemukan sepuluh kata dan konsep, yaitu : membosankan, ujian, pekerjaan rumah, buang–buang waktu, hukuman, tidak relevan, penahanan, idih / aiih (yuck), benci dan takut “(Purnawanto, 2011). Hasil penelitian Tony Buzan memang pas dengan kondisi belajar kelas–kelas sekolah kita. Tiada hari tanpa PR, jangan ribut kalau belajar, yang tidak dapat menyelesaikan soal kena hukuman, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu menciptakan atmosfir/suasana kelas yang kaku dan membosankan.
    Salah satu kendala dalam pembelajaran adalah rasa bosan. Entah itu terjadi pada siswa atau pendidik. Ketika rasa bosan sudah mempengaruhi proses belajar mengajar, ada beberapa hal yang dilakukan siswa. Misalnya ngobrol dengan teman sebangku via memo. Seolah-olah siswa tersebut mencatat hal penting yang disampaikan pendidik. Pada kenyataannya mereka sedang asik berbincang tentang hal yang lebih menarik (musik, film, gossip, bahkan tak jarang membicarakan pendidik yang sedang mengajar). Menggambar. Hal kedua yang sering dilakukan siswa ketika bosan dengan suasana belajar yang itu-itu saja misalnya SMS-an, FB-an, YM-an, dan lain-lain.
    Tentunya sangat tidak menyenangkan jika seorang pendidik mengetahui anak didiknya berperilaku seperti itu. Dalam hati sudah merasa bahwa upaya menyampaikan pelajaran sudah maksimal. Namun kenyataannya masih ada pula siswa yang merasa bosan. Dalam hal ini jangan menyalahkan siswa saja. Pendidik pun harus introspeksi diri, sudah tepatkah cara saya dalam menyampaikan pelajaran. Toleransi akan kondisi siswa sangat dibutuhkan ketika rasa bosan sudah melanda. Masalahnya, kenapa pendidik kok bisa membuat siswa bosan? Apa kiat-kiat supaya pendidik bisa membuat suasana kegiatan belajar mengajar yang kondusif dan tidak membosankan. Mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut, oleh karena itu penulis membuat artikel ini untuk menjawab masalah-masalah tersebut.
    Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang (LPMPDKI, 2010). Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.
    Di dalam sistem pendidikan pastinya terdapat komponen-komponen pendidikan yang saling bergantung dan saling mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan luhur pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (UUD 1945). Komponen-komponen tersebut tentu tidak hanya satu, tapi komponen-komponen tersebut kompleks yang selalu terlibat dalam proses pendidikan. Namun, komponen yang paling utama dalam pendidikan seperti yang kita tahu yaitu pendidik dan peserta didik. Pada hakikatnya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan unsur subjek atau pihak-pihak sebagai aktor penting. (Dwi Siswoyo, dkk, 2007:95)

    Makna Kerja Pendidik terhadap Peserta didik
    Dalam pengertian sederhana, pendidik adalah orang yang memberikan pengetahuan kepada anak didik. Sementara anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan (UPI, 2011). Keduanya merupakan unsur paling vital di dalam proses belajar-mengajar. Sebab seluruh proses, aktivitas orientasi serta relasi-relasi lain yang terjalin untuk menyelenggarakan pendidikan selalu melibatkan keberadaan pendidik dan peserta didik sebagai aktor pelaksana. Hal itu sudah menjadi syarat mutlak atas terselenggaranya suatu kegiatan pendidikan. Dengan mendasarkan pada pengertian bahwa pendidikan berarti usaha sadar dari pendidik yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas peserta didik, terkandung suatu makna bahwa proses yang dinamakan pendidikan itu tidak akan pernah berlangsung apabila tidak hadir pendidik dan peserta didik dalam rangkaian kegiatan belajar mengajar. Sehingga bisa dikatakan bahwa pendidik dan peserta didik merupakan pilar utama terselenggaranya aktivitas pendidikan. Pendidik dan peserta didik merupakan dua jenis status yang dimiliki oleh manusia-manusia yang memainkan peran fungsional dalam wilayah aktivitas yang terbingkai sebagai dunia pendidikan. Masing-masing posisi yang melekat pada kedua pihak tersebut mewajibkan kepada mereka untuk memainkan seperangkat peran berbeda sesuai dengan konstruksi struktural lingkungan pendidikan yang menjadi wadah kegiatan mereka. Semenjak penyusunan perencanaan pengajaran sampai kepada evaluasi pengajaran telah melibatkan proses hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung demi mencapai tujuan kegiatan. Tentu saja melihat ciri khas tujuan tersebut mengindikasikan bahwa iklim dan orientasi belajar - mengajar selalu mengupayakan terjalinnya transformasi nilai substansi pendidikan agar sampai pada level pemahaman para peserta didik dengan indikasi terpenuhinya kriteria peningkatan kemampuan pribadi baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Selain itu proses penyerapan nilai dominan tersebut tentunya menyebar dan mendapat reaksi aktif dari para peserta didik dengan beragam kemampuan, identitas, karakter individu maupun kelompok serta unsur sosial lain yang ikut terlibat dalam atmosfer orientasi edukatif rupanya berhasil menciptakan keragaman pola hubungan beserta aneka ragam hasil dari interaksi belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik di dalam lingkungan belajarnya (UPI, 2011).

    Arti Interaksi Edukatif
    Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan kehadiran manusia lain. Keberadaan manusia selain diri kita menyebabkan proses hubungan timbal-balik terjadi secara alamiah. Proses jalinan hubungan antar individu maupun kelompok terjadi dalam rangkaian upaya memenuhi kebutuhan. Motif saling membutuhkan yang berbeda-beda jenis kebutuhan membuat manusia saling melayani kebutuhan manusia lain. Kecenderungan manusia untuk berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung tindakan dan perbuatan. Oleh karena ada aksi dan reaksi, maka interaksi pun terjadi. Oleh karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih. Ilustrasi tentang interaksi diatas adalah interaksi manusia
    yang lazim terjadi dalam masyarakat. Hal itu berbeda dengan interaksi edukatif, interaksi tersebut dilakukan secara alamiah tanpa dilandasi pedoman tujuan yang mengikat. Mereka melakukan interaksi dengan tujuan masing-masing. Oleh karena itu, interaksi antara manusia selalu mempunyai motif-motif tertentu guna memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan mereka masingmasing. Interaksi yang berlangsung di sekitar kehidupan manusia dapat diubah menjadi “interaksi yang bernilai edukatif”, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang (UPI, 2011). Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai “interaksi edukatif”. Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Oleh karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara pendidik dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.
                Dalam melaksanakan suatu interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik sudah pasti membutuhkan media pembelajaran dan metode dalam melaksanakan proses pembelajaran. Metode dan media pembelajaran ini sangat berperan dalam mencapai keberhasilan belajar dan mengajar antara pendidik dan peserta didik. Apabila metode/caranya pendidik dalam melakukan pengajaran tidak baik, tentunya ini akan menyebabkan siswa mengalami kegagalan dalam proses belajarnya.  Metode pembelajaran kuno yang itu-itu saja/monoton/membosankan juga sangat tidak baik dalam memotivasi siswa untuk berperan aktif/semangat dalam melaksanakan proses pembelajaran.
    Beberapa Ciri Interaksi Edukatif
    Proses belajar-mengajar akan senantiasa merupakan proses kegiatan interaksi antara dua unsur manusiawi, yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan pendidik sebagai pihak yang mengajar, dengan siswa sebagai subjek pokoknya. Dalam proses interaksi antara siswa dan pendidik, dibutuhkan komponen-komponen pendukung seperti antara lain telah disebut pada ciri-ciri interaksi edukatif. Komponen-komponen tersebut dalam berlangsungnya proses belajar-mengajar tidak dapat dipisah-pisahkan. Perlu ditegaskan bahwa proses belajar-mengajar yang dikatakan sebagai proses teknis ini, juga tidak dapat dilepaskan dari segi normatifnya. Segi normatif inilah yang mendasari proses belajar mengajar. Sehubungan dengan uraian di atas, maka interaksi edukatif yang secara spesifik merupakan proses atau interaksi belajar mengajar itu, memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi lain. Menurut (Djamarah, 1980) ciri-ciri interaksi belajar mengajar tersebut yaitu interaksi belajar-mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur atau langkah-langkah sistematis dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda pula. Sebagai contoh misalnya tujuan pembelajaran agar siswa dapat menunjukkan letak Kota Purworejo, tentu kegiatannya tidak cocok kalau disuruh membaca dalam hati, dan begitu seterusnya. Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan satu penyusunan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Sebagai konsekuensi bahwa siswa merupakan sentral, maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar mengajar. Aktivitas siswa dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental aktif. Dalam interaksi belajar-mengajar, pendidik berperan sebagai pembimbing. Dalam peranannya sebagai pembimbing ini pendidik harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Pendidik harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar-mengajar, sehingga pendidik akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Pendidik (“akan lebih baik bersama siswa”) sebagai designer akan memimpin terjadinya interaksi belajar-mengajar. Di dalam interaksi belajar-mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam interaksi belajar-mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak pendidik maupun pihak siswa.
    Penyimpangan dari prosedur, berarti suatu indikator pelanggaran disiplin. Selain itu, interaksi edukatif juga harus memiliki batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok siswa), batas waktu menjadi salah-satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai. Di samping beberapa ciri seperti telah diuraikan di atas, unsur penilaian adalah unsur yang amat penting. Dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditetapkan maka untuk mengetahui apakah tujuan proses belajar- mengajar (interaksi edukatif) sudah atau belum, perlu diketahui dengan kegiatan penilaian.

    Interaksi Edukatif yang Monoton dan Hanya Menonton
                Dari hasil penelitian yang telah penulis paparkan diawal artikel, memang pas dengan kondisi kelas atau proses pembelajaran kita selama ini. Tiada hari tanpa PR, jangan ribut kalau belajar, yang tidak dapat menyelesaikan soal kena hukuman, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu menciptakan atmosfir / suasana kelas yang kaku dan membosankan. (Purnawanto, 2011).
                Sebelum menjelaskan permasalahan ini penulis akan mencoba memberikan suatu ilustrasi cerita pendek tentang suatu proses pembelajaran. Ceritanya begini, “Seorang tutor sebuah lembaga bimbingan belajar bertanya kepada murid-muridnya yang masing-masing berasal dari sekolah yang berbeda-beda, “Pelajaran apa yang paling kamu sukai?” Si A menjawab “Bahasa Indonesia! Karena nggak ada rumus-rumusnya!” Si B menjawab,”Geografi! Karena cuma ngafalin aja!” tiba-tiba si C ngejawab,”Fisika! Karena menyenangkan!” Semua orang kaget mendengar jawaban si C. Lalu teman-temannya menanyakan hal tersebut  setelah selesai bimbelnya. “Eh, C, kamu kok bisa-bisanya suka ama pelajaran Fisika? Fisika itu kan, udah njelimet, ribet, nggak ngerti lagi, pokoknya ribet menurutku, sih!” kata si D. Si C pun menjawab dengan santai,”Jujur, aja. Soalnya guru Fisika ku lucu, asik, dan menyenangkan sih .  .  .  .”
                Dari ilustrasi ini kita bisa menyimpulkan kenapa si C bisa menyukai pelajaran Fisika yang masih dianggap pelajaran paling “angker” bagi siswa-siswa terutama SMP dan SMA. Si C pasti mempunyai metode belajar yang efektif dan kreatif (Genesiss195Smart,  2011), dan tentunya juga didukung oleh pendidiknya/gurunya sebagai motivator dalam mencapai keberhasilan belajarnya. Dapat kita bayangkan jika seorang guru tidak bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif. Pastinya para murid yang dia ampu akan merasakan keadaan yang monoton, tidak memiliki suatu visi, sehingga proses pembelajaran hanya diam pada kondisi statis. Beruntung, jika para murid yang mereka (pendidik) ajarkan itu paham dan bisa menerima ilmu yang pendidik beri. Namun, karena salahnya metode pembelajaran yang diterapkan, pastinya hasil belajar siswa juga akan mengecewakan, dan bahkan memungkinkan siswa tidak mendapatkan apa-apa dari ilmu yang gurunya berikan. Karena suasana yang tidak mendukung sehingga mereka cenderung malas untuk memperhatikan pelajaran ketika guru menerangkan.
                Seharusnya, guru mengetahui tanda-tanda bagaimana apabila siswa mengalami suasana bosan. Tanda-tandanya misalnya, siswa tidur di kelas saat kegiatan belajar mengajar berjalan (SMPN2Lembang, 2011), siswa tidak bertanya ketika diberi kesempatan bertanya, siswa diam ketika diberi pertanyaan oleh guru, siswa tidak mengerjakan tugas rumah mereka, siswa berbicara sendiri saat guru menerangkan, dan bahkan sebagian kecil dari siswa-siswa tersebut ada yang membaca komik saat kegiatan belajar-mengajar berlangsung dengan cara pura-pura membaca buku tetapi didalamnya sebenarnya adalah komik.
                Tanda-tanda siswa ini tentunya disebabkan dari beberapa sebab. Diantaranya adalah siswa tidak suka dengan guru yang mengajar, siswa merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan, kegiatan belajar mengajar tidak menarik, dan lain lain. Masalah ini merupakan masalah kompleks karena menyangkut masalah sistem pembelajaran yang terdiri dari banyak komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
                Suasana belajar yang monoton pastinya sangat membosankan bagi para siswa. Para pendidik seharusnya mengetahui apa yang diinginkan siswanya, dan tidak menerapkan metode pembelajaran yang “sesukanya” dia saja. Apabila pendidik menjalankan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang telah diperoleh oleh peserta didik, ini akan menyebabkan peserta didik bingung dalam menyerap materi yang diberikan oleh gurunya. Contohnya: andaikan kita adalah seorang guru SD, tidak mungkin bagi kita untuk menerapkan sistem pembelajaran seperti pada masa SMA. Murid SD yang belum mengerti apa-apa harus kita bimbing dengan penuh kesabaran agar peserta didik kita tidak merasa tertekan dan secara ikhlas dapat menerima ilmu yang kita beri. Berbeda halnya dengan anak yang sudah  SMA. Mereka tentunya sudah bisa lebih mandiri dan kita sebagai pendidik bisa memberi peran yang lebih kepada peserta didik. Sehingga para peserta didik bisa berperan maksimal dalam melaksanakan proses pembelajaran.
    Selain suasana yang monoton dikelas, penyebab terjadinya permasalahan dikelas adalah guru yang selalu menonton dalam mengajar. Mereka hanya menyampaikan pengetahuan secara sepihak tanpa berusaha melibatkan mental psikologi anak. Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Guru hanya memposisikan anak secara pasif. Siswa hanya dipersiapkan menerima ilmu pengetahuan dari guru yang menggunakan metode ceramah dengan program 3D CH (duduk, dengar, diam, catat, dan hafal) (SDMuhammadiyah4Surabaya,  2011). Seperti kita ketahui siswa adalah makhluk unik, sehingga pendidik harus memiliki pemahaman terhadap kebutuhan peserta didiknya. Sebagai guru profesional sudah selayaknya berusaha meningkatkan penguasaan materi pembelajaran dengan beberapa pendekatan yang bisa memberikan hasil belajar yang optimal.

    Menciptakan Suasana Kelas yang Menyenangkan
    Sering terucap dari mulut siswa komentar tentang guru dengan metode pembelajaran yang dianggap siswa membosankan. Siswa yang merasa bosan akan melakukan aktivitas-aktivitas lain di luar kontrol guru. Karena mereka merasa percuma, dengan mendengarkan ataupun tidak mereka tetap tidak paham, sehingga mereka melakukan hal-hal yang membuat mereka tidak bosan. Ada korelasi positif antara guru yang menyenangkan dengan hasil belajar siswa (Bagus Sulasmono, 2009). Jika seseorang senang dan serius menerima pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru, maka potensi untuk menyerap materi-materi itu lebih besar ketimbang dari guru yang tidak disukainya.
    Dahulu ketika guru menjadi muridpun, tentu mereka pernah mengeluhkan hal serupa. Sekarang giliran menerima yang akan menerima komentar-komentar negatif tersebut jika pembelajaran yang mereka sajikan kurang menarik bagi muridnya. Misalkan saja kita adalah sebagai seorang guru. Pernahkah kita berandai-andai ketika posisi kita menjadi seorang murid yang diajar oleh guru seperti kita, kemudian tanyakan kepada diri kita sendiri “..menarik  atau tidak kah gaya mengajar saya, … membosankan atau tidak kah gaya mengajar saya,… bikin ngantuk ataukah tidak?” Dengan hati yang bening kita dapat menilai sendiri seperti apa diri kita ketika mengajar. Dan tentunya kita tidak ingin dicap sebagai guru yang “ngebosenin”.
    Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan diperlukan keterampilan yang harus dimilki oleh seorang guru. Keterampilan mengajar merupakan kompetensi profesional yang cukup kompleks, sebagai integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Salah satu dari keterampilan yang harus dimiliki oleh guru adalah variasi metode pembelajaran seperti : gaya mengajar, penggunaan media dan sumber belajar, pola interaksi, serta variasi dalam kegiatan pembelajaran. Variasi metode pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Ibarat menu makanan, jika setiap hari disajikan dengan makanan yang sama maka tentu akan menjadi bosan. Begitu juga seorang guru yang mengajar dengan satu metode saja, maka siswa akan merasa bosan. Jika seorang guru selalu menyajikan materi dengan metode yang berbeda-beda, maka siswa akan merasa ingin tahu metode apa lagi yang akan ditampilkan oleh guru di pertemuan selanjutnya. Sehingga ada penantian kejutan-kejutan baru yang dinanti siswa. Beberapa hal yang dapat dilakukan agar pembelajaran menjadi menarik, diantaranya : guru membawa dunia mereka (siswa) ke dalam dunia kita (guru), dan antarkan dunia kita ke dalam dunia mereka. Sebagai seorang guru dituntut untuk memasuki dunia siswa sebagai langkah pertama pembelajaran. Selain juga mengharuskan guru untuk membangun jembatan untuk memasuki kehidupan siswa. Untuk itu, guru dapat memanfaatkan pengalaman-pengalaman yang dimiliki siswa sebagai titik tolaknya. Dengan jalan ini guru akan mudah menghantarkan siswa menuju kesadaran dan ilmu yang lebih luas. Berikutnya adalah menampilkan nilai AMBAK (apa manfaat manfaat bagiku) setiap materi yang diajarkan (Bagus Sulasmono, 2009). Semakin banyak siswa menemukan manfaat-manfaat dari setiap apa yang dipelajari, semakin tinggi nilai guna yang akan siswa peroleh. Sehingga siswa akan semakin semangat untuk belajar, dan pembelajarn pun menjadi semakin menarik. Kemudian guru harus memperhatikan karakteristik gaya belajar siswa. Pembelajaran berlangsung efektif dan optimal bila didasarkan pada karakteristik gaya belajar siswa, sehingga penting sekali pemahaman atas gaya belajar siswa. Setidak-tidaknya ada tiga gaya belajar yang harus diperhitungkan dalam proses pembelajaran, yaitu gaya auditoris, gaya visual, dan gaya kinestetis. Jika seorang guru memiliki pemahaman atas karakteristik gaya belajar ini maka ia akan dengan tepat memilih metode apa yang paling cocok dan menarik untuk disajikan yang disesuaikan dengan karakter gaya belajar siswa.
    Belajar tak harus di kelas. Pembelajaran berlangsung efektif dan optimal bila tercipta suasana nyaman, menyenangkan, rileks, sehat, dan menggairahkan sehingga ini semua perlu diciptakan. Pembelajaran dalam suasana dan lingkungan seperti ini tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, tetapi di luar kelas pun bisa dilakukan. Sewaktu-waktu guru dapat memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi. Dengan adanya rangsangan penghargaan, maka siswa akan termotivasi untuk berlomba-lomba memperoleh penghargaan tersebut. Sehingga pembelajaran akan lebih menarik dan hidup.
    Selain itu, seorang guru juga dapat mengajar dengan menggunakan bahasa cinta. Untuk membuat suasana belajar dikelas menyenangkan dan menarik minat siswa untuk belajar lebih giat, maka guru harus dapat menciptakan hubungan yang harmonis dengan siswa. Karena siswa itu sendiri sebagai manusia yang memiliki rasa cinta jangan sampai membuat julukan negatif pada seorang guru gara-gara selalu marah dan berteriak. Bahasa cinta merupakan salah satu kunci sukses bagi semua guru untuk membangun sebuah hubungan yang indah dengan siswaagar tercipta suasana menyenangkan. Seorang guru dapat membangun hubungan yang indah dengan siswa jika mau berbuat. Mengakui kesalahan yang pernah di lakukan merupakan tindakan yang mulia. Guru adalah sosok yang di kagumi, dihormati, sehingga akan menjadi sangat memalukan baginya untuk mengakui kesalahan yang mungkin telah di perbuat kepada para siswanya. Kewibawaan seorang guru akan terlihat dari apa yang telah ia lakukan. Sikap mengakui kesalahan dan mau minta maaf menunjukkan kebersihan bati seseorang.
    Seorang guru juga bisa memberikan pujian untuk meningkatkan motivasi belajar. Jangan pelit memberi pujian kepada siswa atas keberhasilan yang di capai. Setiap usaha yang telah murid lakukan dalam pembelajaran tenyata mampu meningkatkan motivasi belajar dengan memberi pujian berarti seorang guru sedang menumbuhkan kepercayaan diri pada siswanya. Memberi kesempatan berfikir kreatif dengan menanyakan dan memberikan pilihan kepada siswa dalam proses pembelajaran akan membuat siswa berlatih mengambil keputusam sendiri tanpa ada paksaan. Siswa akan terdidik untuk berpikir kreatif dalam mencari pemecahan suatu masalah. Mau menghargai orang lain seperti kata terima kasih merupakan ungkapan yang bermakna luas, ketika seorang siswa mampu mengatakan terimah kasih baik kepada teman atau gurunya berarti dia memiliki kepekaan bahwa apa apa yang telah berhasil ia dapatkan bukan semata-mata kehebatanya sendiri melainkan ada orang lain yang turut membantu. Dari sinilah siswa dapat belajar untuk menyadari bahwa bekerja sama merupakan hal yang sangat baik untuk di lakukan. Dengan bahasa cinta, hubungan yang kaku antara guru dan murid sudah saatnya di ubah menjadi hubungan yang harmonis penuh kasih sayang. Insya allah akan mencetak calon-calon generasi yang unggul di masa mendatang.

    PENUTUP

                Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha sadar untuk memanusiakan manusia atau untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan/keahlian dalam kesatuan organis harmonis dinamis, di dalam dan di luar sekolah/lembaga formal lainnya yang berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, kita manusia sebagai makhluk sosial  selalu membutuhkan keberadaan manusia lainnya. Manusia dalam hidupnya akan senantiasa dan pasti pernah mengalami interaksi dengan manusia lainnya. Dengan motif kebutuhan hidup yang harus mereka penuhi maka diantara manusia akan melakukan interaksi satu sama lain. Dan jika interaksi itu berhasil, maka terjadi timbal balik antara manusia satu dengan manusia lainnya. Interaksi ini terjadi secara alamiah dan berdasarkan tujuan manusia masing-masing. Sekarang, apabila terdapat unsur pendidik dan peserta didik dalam interaksi itu maka interaksi itu dapat disebut interaksi edukatif. Berbeda dengan interaksi yang pertama. Interaksi edukatif dilakukan oleh dua orang atau lebih yang dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan baik dari satu pihak ataupun dari pihak yang lain. Dalam interaksi edukatif medium yang di gunakan adalah pendidikan, sehingga terjadi proses pendidikan didalamnya antara pendidik dan peserta didik. Oleh karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara pendidik dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan untuk mencapai tujuan pendidikan. Interasi edukatif memiliki ciri-ciri yaitu memiliki tujuan, memiliki prosedur dan desain yang sistematis dan relevan, ditandai dengan adanya aktivitas siswa, guru berperan sebagai pembimbing, disiplin, waktu, dan unsur penilaian.
                Dalam suatu proses pasti terdapat suatu kendala-kendala yang menghambat dalam rangka mencapai tujuan yang dicita-citakan. Seperti dalam interaksi edukatif rasa bosan para siswa merupakan salah satu kendala dalam proses pembelajaran.
                Untuk mengatasi titik kejenuhan siswa ini sebaiknya para pendidik/guru mengubah sistem pembelajaran yang itu-itu saja. Pendidik bisa memulai nya dari awal dengan meluruskan niat belajar, sehingga para peserta didik lebih serius dalam melaksanakan proses pembelajaran. Selanjutnya pendidik bisa mengubah suasana belajar sehingga siswa merasa lebih enjoy dan senang dalam mengikuti pelajaran. Kemudian pendidik dapat memberikan kesempatan penuh kepada siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga tidak hanya guru yang “ceramah” kepada peserta didiknya, tetapi juga mereka (peserta didik) juga pasti ingin mengutarakan pendapat seputar pelajaran yang sedang dibahas.

    DAFTAR PUSTAKA

    DiktatUNS. 2011. Guru dan Murid (e-book). Surakarta: UNS Press
    Djamarah, Syaiful Bahri. 1999. Psikologi Belajar.  Jakarta: Rineka Cipta
    Genesiss195Smart. 2011. http://genesiss195smart.wordpress.com/2009/06/04/biar-
                pelajaran-nggak-ngebosenin/ diakses pada pukul 13.37 WIB tanggal 14
                November 2011
    LPMPDKI. 2010. http://www.lpmpdki.web.id/ diakses pada pukul 14.15 WIB tanggal 12
                November 2011
    Sulasmono, Bagus. 2009. http://aksiguru.org/ diakses pada pukul 14.30 WIB tanggal 12
    November 2011
    Purnawanto. 2011. http://id.netlog.com/smpn2tebingtinggi/blog/blogid=2893 diakses pada
    pukul 13.39 WIB tanggal 14 November 2011
    SDMuhammadiyah4Surabaya. 2011 http://www.sdm4sby.com/web/index.php?option
    =com_content&view=article&id=132:suasana-kelas-menyenangkan-siswa-enjoy-
    belajar&catid=45:pendidikan&Itemid=83/ diakses pukul 13.43 WIB tanggal 14
    November 2011
    Siswoyo, Dwi. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Yogyakarta State University Press
    SMPN2Lembang. 2011. http://smpn2lem.blogspot.com/2011/04/10-penyebab-
                kegagalan-belajar-siswa.html diakses pada pukul 13.51 WIB tanggal 14
                November 2011
    UPI. 2011. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_c0151_0609040_chapter1.pdf
                diakses pada pukul 13.49 WIB tanggal 14 November 2011

    Leave a Reply

    Silakan berkomentar pada postingan saya ini.
    Admin mengharapkan kecerdasan dan etikanya dalam berkomentar.
    Dilarang berkomentar dengan bahasa yang kotor, spam, hoax, dan sara.
    Jika ada yang melanggar, maka admin tidak segan-segan akan menghapus komentarnya.
    Terima Kasih sudah bersedia untuk berkomentar.
    ...
    ...
    ...
    Admin